Sabtu, 21 November 2009

RETORIKA AL QUR'AN
Oleh : Prio Hotman,MA


A. Pengantar.

Retorika yang berasal dari kata rethoric, memiliki arti seni berbicara di depan publik . Sebagai seni berbicara, retorika bertujuan sebagai instrumen pengetuk pikiran dan jiwa lawan bicara agar mau mendengar secara simpati dan empati informasi yang disampaikan oleh pembicara . Sampai di sini, retorika dapat dikatakan sebagai sisi estetika dari pembicaraan. Manusia dalam proses komunikasi memiliki sejumlah faktor konsideran yang menentukan berhasil tidaknya pesan tersebut dipahami oleh lawan bicara. Faktor tersebut adalah akal, nurani dan kehendak bebas.
Akal menimbang informasi-informasi rasional, sedangkan nurani berfungsi sebagai penimbang informasi-informasi yang bersifat intuitif. Akal dan nurani memiliki wilayah kerja masing-masing, pesan atau informasi yang bersifat intuitif akan ditolak oleh akal, sedangkan pesan atau informasi rasional tidak akan bisa diterima melalui nurani. Dalam kaitan ini, retorika digunakan untuk mengarahkan pesan atau informasi pembicaraan kedalam wilayah kerjanya (deskjob) masing-masing. Pesan atau informasi yang telah diterima, tidak serta merta mendapat respon yang positif dari lawan bicara. Hal demikian karena manusia mempunyai kehendak bebas, sehingga ia memiliki kebebasan memilih antara memberikan respon positif atau negatif terhadap pesan yang terimanya.
Al Qur'an sebagai kitab dakwah, adalah sarat dengan informasi ketuhanan (al khitab al Ilâhy) yang harus disampaikan kepada manusia, oleh Allah secara direct, dan Muhammad secara indirect. Walaupun al Qur'an berasal dari Allah (Ilâhiy al Masdary), namun secara fungsional ia ditujukan untuk kepentingan manusia (Insâny al Qasdy) . Karena al Qur'an ditujukan untuk manusia, maka pesan-pesan al Qur'an yang disampaikan, sarat dengan retorika . Retorika al Qu'ran tidak seperti retorika pada umumnya yang hanya menyentuh satu aspek dari manusia dan mengabaikan aspek lainnya. Retorika al Qur'an menyentuh fisik, rasio dan intuisi manusia sekaligus. Sebagai penyampai wahyu Tuhan, nabi Muhammad memiliki wilayah kerja yang disebut al Qur'an dengan istilah al balâgh. Menurut pakar al Qur'an al Isfâhani, akar kata tersebut merujuk kepada makna sampainya sesuatu kepada tujuan atau sasaran final, baik itu tempat maupun waktu . Kata tersebut juga menunjuk kepada arti kecukupan (al kifâyah) .
Dalam menyampaikan pesan-pesannya, al Qur'an tidak membataskan diri dengan menilik hanya kepada satu aspek saja pada manusia dan melupakan aspek lainnya. Lebih dari itu, al Qur'an menghendaki agar pesannya tersebut mengenai sasaran final. Untuk itu, semua aspek pada manusia, baik fisik, rasio maupun intuisi harus disentuh secara bersamaan. Hal demikian seperti terlihat dalam ayat berikut
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka (QS Âli 'Imran/3: 191).

Menurut pakar tafsir al Râzi , ayat di atas menjelaskan perihal ulil albab yang senantiasa mengingat Allah dengan menggabungkan seluruh aspek pada dirinya, jiwa dan raganya. Lanjut lagi, al Râzi menjelaskan bahwa untuk mencapai derajat ulil albab, setiap waktu seorang hamba harus disibukkan dengan mengingat Allah. Untuk itu, seorang hamba harus berusaha untuk mengerahkan segenap aspek yang dimilikinya agar senantiasa mengingat Allah, baik dengan anggota luar (jawârih), rasio (aql) hingga intuisinya (al qalbu wa al rûh) . Ayat tersebut menjadi bukti bahwa untuk menyampaikan pesan-pesannya, al Qur'an menyentuh seluruh aspek manusia. Ayat di atas juga merupakan bukti bahwa dalam berkomunikasi dengan manusia, al Qur'an menghendaki adanya integrasi dua hal, yakni fikir yang mewakili aspek rasio dan zikir yang mewakili aspek anggota tubuh dan intuisi .
Dalam kaitan masalah ini, tugas nabi Muhammad adalah al balâgh, yakni menyampaikan pesan-pesan al Qur'an dengan memperhatikan seluruh aspek kemanusiaan agar mencapai tujuan final, tanpa menyisakan keraguan, baik dengan penjelasan-penjelasan yang memuaskan nalar dan nurani (al îdah wahdah), hingga peringatan yang berbentuk tekanan fisik (madmûnan bi al sayf) dan berbagai peringatan lain .
Sebagai kitab yang ditujukan kepada manusia, al Qur'an juga memperhatikan sisi kebebasan kehendak yang terdapat pada manusia. Meskipun pesan-pesan al Qur'an telah menyentuh seluruh aspek jiwa raga manusia, namun manusia memiliki kebebasan untuk merespon pesan yang diterimanya, baik dengan positif atau negatif. Karena itu, dalam ayat lain, al Qur'an menyebut bahwa setelah nabi Muhammad menyampaikan pesan-pesan al Qur'an dengan memperhatikan seluruh aspek kemanusiaan, ia diperintahkan untuk mencukupkan diri (al kifâyah) dengan menyampaikan pesan tersebut seraya menyerahkan hidayah kepada Allah .
Untuk menjalankan kedua tugas tersebut (al tablîgh wa al kifayâh), nabi Muhammad disuruh untuk mengajak manusia kejalan Tuhan – yang merupakan inti pesan al Qur'an – dengan metode hikmah yang mewakili aspek akal dan jiwa manusia , mau'izah hasanah yang mewakili aspek jiwa dan hati manusia , mujâdalah hasanah yang mewakili aspek penalaran dan emosi , dan mu'âqabat bi al mitsl yang mewakili aspek fisik luar manusia . Semua metode tersebut terekam dalam ayat-ayatnya yang disajikan dalam beraneka ragam gaya bahasa.
Dalam kaitan berbicara dengan manusia, al Qur'an menyampaikan pesannya dengan berbagai retorika. Terkadang al Qur'an mengajak lawan bicaranya untuk berdialog dengan mengungkapkan argumen lawan, kemudian membantah argumen tersebut dengan dalil-dalil yang kuat (al hujjah al balîghah). Terkadang ia menggelitik nalar manusia dengan mengajak untuk berfikir tentang kejadian-kejadian/fenomena di alam nyata (ayat al kauniah). Di lain waktu, al Qur'an menggugah kesadaran intuisi dan spirituil manusia dan mengingatkan akan kehadiran Allah di dekatnya. Al Qur'an juga menggunakan gaya pujian dan janji-janji untuk memotivasi manusia untuk mengerjakan kebajikan. Di sisi lain, untuk mencegah lahirnya kejahatan-kejahatan, ia mencela, mengecam, mengkritik dan mengancam setiap perbuatan yang ahumanis dengan balasan dan siksa yang pedih. Terkadang al Qur'an menggunakan gaya bahasa yang sejuk, lembut, dan bersahabat untuk mengundang pertemanan dan perkawanan (ta'lîf). Di lain waktu, ia menggunakan bahasa yang tegas, keras dan garang untuk menakut-nakuti dan mengendorkan nyali orang yang di dalamnya hatinya terdapat kesumat dan permusuhan (tahdîd). Terkadang al Qur'an menggunakan kata-kata yang memancing dan memotivasi munculnya nalar kreatifitas dan inovativitas manusia. Namun di sisi lain, ia berbicara dengan gaya bahasa yang kaku dan menutup rapat-rapat kemungkinan munculnya kreatifitas dan inovativitas manusia. Semua itu, di bicarakan al Qur'an secara berulang-ulang silih berganti . Tujuannya agar semua unsur yang ada pada manusia sebagai obyek pembicaraan al Qur'an tersentuh secara komprehensif dan menerima pesan al Qur'an secara utuh.





B. Retorika Dialog Al Qur'an.

Menurut Ulama besar India Syaikh al Dahlawi - seperti dikutip Ahsan Dawi, dialog merupakan salah satu dari lima pengetahuan sentral tema al Qur'an . Hal demikian dapat dipahami mengingat dalam setiap proses penyampaian pesan tidak bisa tidak harus melibatkan unsur dialog. Dialog yang dalam bahasa al Qur'an diistilahkan dengan al jidâl, adalah salah satu metode yang digunakan untuk menyampaikan pesan al Qur'an. Kata tersebut dan derivasinya disebut al Qur'an dalam dua puluh sembilan tempat . Dari jumlah yang disebutkan, seluruhnya bermakna perdebatan yang tercela (al jidâl al mazmûm) kecuali dalam tiga tempat. Secara berurutan yaitu QS an nal (16): 125, QS al 'ankabut (29): 46, dan QS al mujadilah (58): 1.
Dalam surah al nahl, al Qur'an menyebutkan bahwa untuk menyampaikan pesan Tuhan, jidal juga dipergunakan. Dalam kaitan ini, jidal yang dipergunakan bukanlah jidal yang tercela (al jidâl mazmûm), melainkan jidal yang terpuji (al jidal mamdûh) atau jidal dengan cara yang paling baik (jidâl bi allatî hiya ahsan). Menurut pemikir Ibn Hambali, jidal jenis ini merupakan dialog yang menyertakan bukti-bukti yang konkrit (al adillah al azharah), juga dengan menyimak keraguan lawan dengan simpati dan empati untuk kemudian menjawabnya dengan argumen yang kuat. Di sisi lain, dialog ini juga membutuhkan kelemahlembutan di samping membuang jauh-jauh sikap keras dan kasar (al ghilzah). Dengan demikian, argumen yang disampaikan akan menggungguli dan mematahkan argumen lawan .
Dalam al Qur'an, dialog terpuji (al jidâl al ahsan) yang pertama kali terekam melalui QS al Baqarah (2) : 30-33. Melalui ayat tersebut, al Qur'an memunculkan argumen malaikat yang berkeberatan dengan keputusan Allah ketika berkehendak untuk menjadikan wakil-nya di muka bumi. Allah maha berkehendak, dan Ia mengetahui bahwa setiap kehendaknya adalah terbaik. Namun demikian, Allah tidak serta merta memaksakan kehendaknya secara sepihak kepada mahluk-Nya. Untuk itu, malaikat dipersilahkan untuk menyampaikan pendapatnya perihal kehendak Allah tersebut. Bagi malaikat, mewakilkan bumi kepada manusia adalah keputusan yang tidak tepat. Alasannya, karena manusia itu mahluk yang memiliki potensi untuk merusak dan membunuh. Sedangkan mahluk dengan potensi seperti itu, tidak mungkin akan bisa memakmurkan dan menebarkan kebaikan di muka bumi. Apa yang disangka malaikat mengenai manusia itu adalah tidak benar. Karena ternyata manusia memiliki potensi baik yang lebih besar dari potensi buruknya. Untuk mematahkan argumen malaikat, Allah menunjukkan bukti konkret tentang keunggulan manusia melalui kompetisi intelektual. Dialog tersebut, kemudian diakhiri dengan pengakuan malaikat akan kebenaran argumen Allah tentang perwakilan manusia di muka bumi.
Kalau ayat dalam surah al Baqarah di atas merupakan contoh dari retorika al Qur'an mengenai dialog yang baik (al jidâl al ahsan), maka dalam surah yang lain al Qur'an memberi contoh dari dialog yang tercela (al jidal al mazmûm). Dialog tercela dalam al Qur'an diwakili oleh perkataan iblis yang memotong pembicaraan begitu saja dan mengacuhkan argumen Allah melalui perkataannya "…khalaqtahû min tînin wa khalaqtanî min narin…" . Melalui kedua jenis dialog ini diperoleh pemahaman, bahwa dialog yang dapat menyampaikan maksud dan pesan pembicaraan adalah dialog dengan cara yang baik, bahkan terbaik (al jidâl al ahsan). Sedangkan untuk menciptakan dialog seperti ini membutuhkan retorika. Retorika dalam berdialog adalah sikap lapang mendengarkan dan menegaskan kembali argumen lawan.
Selain argumen yang disertai bukti konkrit, dalam berdialog terkadang al Qur'an mematahkan argumen lawan bicaranya dengan argumen yang rasional. Perhatikan misalnya ketika al Qur'an membantah keyakinan fanatik ahlu kitab yang mengira bahwa surga hanya dimonopoli oleh orang-orang yahudi atau nasrani saja. Dalam hal ini, pertama-tama al Qur'an menegaskan perkataan atau argumen mereka. Tujuannya adalah agar tidak ada kesalahpahaman pendapat (missunderstood argue) yang dikira argumen. Setelah kedua pihak menyepakati maksud perkataan, barulah al Qur'an memberi bantahan rasional bahwa surga tidaklah dimonopoli oleh institusi agama tertentu, melainkan siapa saja orang yang memasrahkan dirinya kepada Tuhan seraya melakukan amal-amal baik, maka ia tidak perlu takut dan tidak terhalang dari pahala Tuhannya . Hal yang serupa ketika al Qur'an membantah keyakinan ahlu kitab yang mengira bahwa mereka hanya akan masuk neraka hanya beberapa hari saja. Maka setelah mengutarakan argumen mereka, al Qur'an membantah dengan meminta bukti tentang jaminan Allah atas tidak kekalnya mereka di dalam nereka, kemudian memberi bantahan bahwa siapa saja yang melakukan kesalahan yang sangat fatal hingga ia tenggelam dalam kesalahan itu, mereka itulah yang kekal di dalam neraka .
Pada lain tempat, dalam berdialog al Qur'an menggunakan argumen historis untuk membantah argumen lawan. Perhatikan ketika al Qur'an membeberkan argumentasi-argumentasi orang yahudi yang mereka lontarkan untuk menolak ajaran Muhammad dengan meminta bukti berupa mukjizat kurban yang dimakan api. Setelah al Qur'an menyebutkan semua argumen lawan, maka dibantahnya dengan argumen historis. Yaitu dahulu, nabi-nabi sebelum Muhamad juga telah memberikan bukti berupa mukjizat semacam itu, namun mereka tetap tidak beriman, malahan membunuh nabi-nabi mereka .
Inilah sebagian contoh-contoh retorika dialog al Qur'an. Contoh-contoh tersebut dan yang serupa pada akhirnya menekankan beberapa poin penting. Pertama, retorika dialog yang digunakan adalah al jidâl al ahsan, yakni jidal yang menekankan pada unsur keunggulan, baik keunggulan sikap (budi pekerti) maupun keunggulan argumen. Kedua, retorika dialog al Qur'an mempunyai ciri khusus, yaitu selalu mengulang argumen lawan sebelum membantah argumen tersebut. Tujuannya tidak lain adalah agar tidak terjadi kesalahpahaman pendapat dan tepat dalam melontarkan hujjah. Ketiga, bantahan-bantahan al Qur'an terhadap lawan menggunakan berbagai argumen. Terkadang dengan menyertakan bukti konkrit, argumen rasional hingga historis.
Retorika dialog al Qur'an, perlu dipelajari para da'i Islam dalam menyampaikan pesan-pesan Islam kepada golongan yang disebut oleh para pakar dakwah sebagai ahl al jidâl. Yaitu mereka yang bukan tergolong orang awam maupun cerdik pandai, tetapi mereka yang memiliki pengetahuan tetapi tidak mendalam. Pengetahuan mereka itu perlu diasah dan diperdalam dengan dialog, dan retorika dialog al Qur'an adalah cara yang tepat untuk melakukan tugas tersebut.


C. Retorika Reflektif al Qur'an.

Untuk menyampaikan pesannya, al Qur'an juga menghadirkan bentuk pembicaraan reflektif. Dalam kaitan ini, al Qur'an adalah kitab yang memberi porsi besar kepada pembacanya untuk melakukan penalaran. Hal tersebut dibuktikan melalui banyaknya ayat al Qur'an yang memuat istilah yang berkaitan dengan kegiatan berfikir . Tidak diragukan lagi, tujuannya adalah agar pembaca al Qur'an mengimani pesan-pesan al Qur'an secara sadar dan menerimanya secara logis. Dalam hal ini, penerimaan kebenaran pesan al Qur'an secara logis baru dapat terwujud jika kebenaran tersebut mengejawantah dalam kebenaran di alam empiris. Al Qur'an secara literal merupakan bukti kekuasaan Allah dalam bentuk perkataan (al âyat al qouliyah), dalam hal ini ada konsesus umat muslim untuk mengimani kebenaran literal al Qur'an. Namun demikian, kebenaran logis menuntut lebih dari sekedar kebenaran abstrak. Untuk mencapai kebenaran logis, harus ada korelasi dan sintesa antara kebenaran literal al Qur'an yang bersifat abstrak dengan kebenaran faktual empiris.
Alam raya sebagai hasil kreasi Allah merupakan bukti kekuasaan-Nya yang mengejawantah dalam bentuk faktual (al âyat al kauniah). Dalam kaitan ini, kebenaran abstrak literal al Qur'an di konfirmasi melalui kebenaran faktual ayat-ayat kauniah. Korelasi dan sintesa antara kebenaran abstrak literal al Qur'an dan kebenaran faktual alam raya akan menghasilkan kebenaran kebenaran logis, dan itulah yang ingin ditunjukan al Qur'an kepada pembacanya.
Dalam rangka mencapai tujuan itu, maka al Qur'an seperti terbaca dalam banyak ayatnya mengajak manusia untuk melakukan refleksi (perenungan) terhadap alam raya. Dalam hal ini, al Qur'an menggunakan retorika reflektif, yakni gaya berbicara (khitâb) al Qur'an kepada pembacanya dengan gaya bahasa yang mengajak untuk berfikir, merenung dan menelaah tentang suatu fenomena atau kejadian-kejadian nyata di alam raya ini dengan tujuan mencapai kebenaran hakiki.
Dalam al Qur'an 3:190-191, diperoleh informasi bahwa refleksi dalam artian melakukan perenungan ayat-ayat kauniah, merupakan suatu yang mutlak diperlukan agar manusia dapat menemukan Tuhannya. Alam semesta diciptakan bukan dengan tanpa tujuan, sebaliknya, seluruh benda di alam ini memiliki tujuan penciptaannya masing-masing. Tujuan penciptaan itu kait mengkait dan berakhir pada satu tujuan, yaitu pembuktian tentang kekuasaan dan eksistensi Tuhan. Itulah sebabnya reflektif dalam arti tafakkur tentang alam semesta, dapat mengantarkan manusia menemukan Tuhannya .
Dalam kaitan ini, pesan-pesan al Qur'an ditujukan untuk membentuk sosok muslim yang memiliki keimanan teguh yang sanggup "mempertemukannya" dengan Allah. Untuk itu, maka di antara pesan-pesan al Qur'an ada yang dikemukakan dengan gaya bicara reflektif. Perhatikan ayat berikut

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan" (QS al Baqarah/2: 164).

Melalaui ayat di atas, publik di ajak untuk berefleksi (merenungkan) tentang berbagai fenomena alam seperti proses penciptaan langit dan bumi, perputaran siang dan malam, proses berlayarnya perahu di tengah laut, proses turunnya hujan dan kemudian darinya tumbuh beraneka tanaman yang dimakan hewan ternak, hingga proses berkisarnya angin. Bahwa semua fenomena alam tersebut, merupakan bukti (al dalâil) dari kebesaran kekuasaan Allah ('azim al qudrah) serta hikmah yang mendalam (bâhir al hikmah) .
Bagi Mahaguru Tafsir Ibn Katsir, ayat di atas masih berhubungan dengan ayat sebelumnya (QS al Baqarah, 163). Menurut Ibn Katsir, ayat sebelumnya menjelaskan doktrin (ayat al qouliah) tentang keesaan Allah (tauhid). Sebuah doktrin kebenaran akan kehilangan nilai logisnya jika tanpa disertai bukti-bukti konkret. Maka melalui ayat berikutnya, doktrin keesaan Allah (tauhid) tersebut diperkuat dengan argumen-argumen konkret empirik, yaitu dalam wujud beragam fenomena alam (al âyat al kauniah) .
Lebih lanjut lagi, Ibn Katsir mengutip sebuah riwayat ketika ayat (QS al Baqarah,163) turun, kaum musyrikin bertanya "bagaimana Tuhan yang tunggal bisa mendengar manusia yang plural?" maka turunlah ayat 164 surah Baqarah, sebagai bukti sekaligus seruan untuk merefleksikan fenomena alam (ayat kauniah) agar manusia bisa mencapai pengetahuan mengenai Tuhan yang tunggal (ayat qouliah) .
Contoh serupa juga dapat kita lihat dalam rangkaian ayat berikut.
" Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?" (QS al Ghasiah, 17-20).

Menurut pakar tafsir Ibn 'Asyûr, rangkaian ayat di atas berkaitan dengan tema ayat sebelumnya yang berisikan berita tentang hari kiamat, dan keadaan orang yang celaka (ahl al Syaqa') . Orang yang celaka, lanjut Ibn 'Asyur, adalah golongan orang-orang yang tidak mempercayai keesaan Allah (wahdaniat Allah), hari kebangkitan dan pembalasan (yaum al ba'ts wa al Jaza') . Dari deskripsi al Qur'an tersebut, kemudian al Qur'an mengalihkan retorikanya kepada sindirian sekaligus ajakan kepada mereka yang menyangkal keesaan Allah serta hari kebangkitan dan pembalasan, agar melakukan refleksi tentang fenomena-fenomena seperti yang disebut dalam rangkaian ayat. Al Qur'an melalui retorikanya menyuruh manusia untuk memperhatikan tentang beragam fenomena alam, dari mulai proses penciptaan unta, tegaknya langit, kokohnya gunung, hingga fenomena datarnya bumi. Melalui perenungan terhadap ayat-ayat kauniah tersebut, manusia akan sampai pada keyakinan tentang keesaan Allah dan tentang hari kebangkitan dan pembalasan. Korelasinya adalah, "dengan menyaksikan fenomena-fenomena alam tersebut, maka akan terungkap darinya tanda-tanda kekuasaan sang pencipta (qudrat al khaliq), dan dengan memahami tanda-tanda kekuasaan Allah, maka menjadi logislah ayat qauliah tentang hari kebangkitan dan pembalasan ".
Bagi para da'i, retorika reflektif mutlak diperlukan, terutama jika audien yang dihadapinya adalah golongan cendekiawan dan kaum terpelajar. Demikian retorika reflektif al Qur'an.


D. Retorika Intuitif al Qur'an.

Seperti dijelaskan sebelumnya, retorika al Qur'an bukan hanya menyentuh satu aspek manusia saja, melainkan menyentuh aspek manusia secara keseluruhan. Kalau al Qur'an menyentuh aspek rasio manusia melalui retorika reflektifnya, maka melalui retorika intiuitifnya, al Qur'an menyentuh aspek kejiwaan manusia sembari menyiraminya dengan cahaya iman. Bagi Quraish Shihab, manusia yang disentuh aspek jiwanya tapi diabaikan rasionya adalah seperti robot. Sebaliknya, manusia yang disentuh rasionya, tapi diabaikan jiwanya seperti setan . Karena al Qur'an ditujukan untuk membentuk manusia yang komprehensif, maka selain rasio, jiwa manusiapun menjadi obyek retorika al Qur'an. Retorika al Qur'an yang berfungsi menggugah kesadaran jiwa manusia dan menyiraminya dengan cahaya iman itulah yang dinamakan retorika intuitif al Qur'an.
Di antara contoh retorika intuitif al Qur'an, dapat di simak dalam ayat berikut ini.
" Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran" (QS al Baqarah; 186).


Sayyid Qutb dalam Fî Zilâl al Qur'an, menyebutkan bahwa dalam ayat tersebut terdapat retorika yang sangat dalam menusuk kedalam jiwa manusia (a'mâq al nafs) dan bisikan kedalam nuraninya (khafâyâ al sarîrat) . Menurut Qutb, ayat di atas merupakan peredam dan penghilang segala kesulitan dan perjuangan umat muslim setelah menjalankan ibadah puasa dengan janji kedekatan-Nya akan hamba dan Ijabah do'a mereka . Segala perjuangan dan kesulitan yang di alami umat muslim dalam menjalankan puasa, lanjut Qutb, hilang seketika ketika intuisinya disentuh oleh ayat tersebut yang penuh dengan retorika kasih sayang, kelembutan, dan kedekatan Tuhan akan hamba-Nya . Bagi Qutb, ayat-ayat yang berisi retorika intuitif seperti inilah yang membuat seorang mukmin makin percaya dan optimis dalam menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangannya, dan ayat seperti inilah yang mengkonversi seorang mukmin menjadi seorang muttaqin . Bagi para da'i, retorika intuitif mutlak diperlukan dalam rangka menggugah emosional mad'u dan menghidupkan intuisi yang mati (ihyâ al syu'ûr al rabbâniyah). Demikian retorika intuitif al Qur'an

E. Retorika Reward (tabsyîr) dan Punishment (tanzîr).

Sesungguhnya Allah telah mengkaruniakan manusia kemampuan untuk memilih yang baik dan menyelamatkan dirinya dari yang buruk dan mencelakakan dirinya. Namun demikian, terkadang manusia lalai dari petunjuk tersebut dan memilih yang sebaliknya. Di sisi lain Allah maha pengasih dan penyayang hambanya, dia tidak merelakan hambanya memilih kesesatan kemudian celaka. Sebaliknya, Allah menginginkan mereka berada dalam petunjuk-Nya dan mendapat ridlanya. Karena sifat rahman dan rahim-Nya itu, maka diutuslah kepada manusia para rasul yang membawa kabar gembira sebagai upah (reward) bagi orang yang memilih petunjuk dan peringatan sebagai ancaman (punishment) bagi mereka yang memilih kesesatan. Dalam al Qur'an, kabar gembira dan ancaman itu disajikan dalam bentuk retorika yang termuat dalam ayat-ayat tabsyîr dan tanzîr.
Tabsyîr menurut al Asfîhany, adalah pemberitaan mengenai sesuatu yang menyenangkan atau membuat wajah berseri. Dalam hal ini, ayat-ayat tabsyîr memang berisi retorika mengenai kabar gembira dan janji pemberian "upah" bagi mereka yang mengikuti petunjuk. Sebagai lawan dari tabsyîr, tanzîr berarti pemberitaan yang berisi kecaman (khawwafahu) dan ancaman (hadzdzarahu) . Dalam hal ini, ayat-ayat tanzîr berisi retorika "kecaman" terhadap para pembangkang sekaligus "ancaman" tentang siksa dan hukuman yang akan didapat bagi mereka yang memilih kesesatan. Perhatikan rangkaian ayat berikut

"Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) - dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang Suci dan mereka kekal di dalamnya" (QS al Baqarah/2: 24-25).

Rangkaian ayat di atas berkaitan dengan ayat sebelumnya yang berisi tantangan al Qur'an kepada manusia agar membuat satu surah yang sepadan. Kemudian al Qur'an melanjutkan tantangannya itu dengan retorika tanzîr dan tabsyîr. Bagi manusia yang angkuh dan tetap dalam kekufuran setelah mengetahui kelemahannya akan tantangan al Qur'an, mereka diancam dengan siksa neraka yang pedih . pemberitaan tentang ancaman bagi mereka yang angkuh dan kufur dalam ayat di atas, merupakan retorika tanzîr al Qur'an. Tujuan dari retorika tersebut adalah membendung lahirnya potensi negatif dari manusia melalui kecaman dan ancaman.
Sedangkan bagi orang-orang yang ta'at mengikuti petunjuk, al Qur'an berbicara dengan retorika tabsyîr, yakni menggembirakan mereka dengan kabar baik perihal "upah" yang akan diperoleh dikemudian hari. Tujuan dari retorika tabsyîr, yaitu membujuk dan mengukuhkan potensi positif manusia agar lahir darinya tashdîq (iman) dan amalan-amalan saleh . Demikian retorika tabsyîr dan tanzîr dalam al Qur'an.


F. Retorika Ta'lîf dan Tahdîd.

Dalam hubungan dengan kelompok luar, islam merupakan agama yang mengajarkan penganutnya untuk bersikap ramah dan lembut (frendship) serta toleran terhadap siapa saja yang mengedapankan persahabatan dan perkawanan . Sedangkan terhadap golongan yang memusuhi dan menteror, islam bersikap tegas dengan menampilkan wajahnya yang kasar dan sangar . Adapun wajah islam yang ramah dan lembut, dimaksudkan untuk mencairkan hubungan, mengundang hubungan diplomatis, dan menciptakan pola pergaulan yang dinamis dan sinergis. Sedangkan penampilan islam yang kasar dan sangar, ditujukan untuk menggetarkan dan menakut-nakuti musuh atau mengendorkan nyali lawan dan mengurungkan niat jahat mereka.
Kedua sisi wajah islam tersebut, diungkapkan kepada publik melalui retorika ayat-ayat ta'lîf dan tahdîd. Adapun yang dimaksud dengan retorika ta'lîf adalah cara al Qur'an menyampaikan pesannya dengan gaya bahasa yang lemah lembut, ramah, bersahabat dan diplomatis . Sedangkan yang dimaksud retorika tahdîd, adalah gaya bahasa al Qur'an yang tegas menampilkan wajah islam yang kasar dan sangar dengan maksud menakuti dan menggetarkan orang-orang yang di dalam hatinya terdapat kesumat dan permusuhan . Perhatikan contoh ayat berikut.


                                
"Katakanlah: "Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah". jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (QS Ali 'Imran /3: 64 ).


Dalam karyanya Dur al Mantsur, al Suyuty menyebutkan suatu riwayat berkenaan dengan ayat di atas. Menurut al Suyuty, ayat tersebut pernah di tulis nabi Muhammad dalam suratnya kepada penguasa Rumawi, Heraklius . Melalui surat tersebut, nabi Muhammad menyertakan ayat al Qur'an yang berisi retorika ta'lif dengan tujuan membina hubungan diplomatis dengan umat lain (dalam hal ini umat nasrani Rumawi) dan mengajak mereka kepada Islam atau setidaknya hubungan pertemanan dan persahatan. Retorika ta'lif ini ditujukan kepada Heraklius yang pada saat itu merupakan pemimpin umat nasrani Rumawi yang cenderung menunjukan persabatan dan perkawanan dengan umat muslimin . Sikap dan kebijakan serupa ditunjukkan oleh nabi Muhammad ketika melakukan hubungan diplomatis dengan Mauqauqis, raja Qibti yang juga bersahabat dan berkawan dengan muslimin . Seperti ditunjukan oleh al Qur'an, ayat yang berisi retorika demikian ditujukan khusus kepada mereka yang menunjukan persahabatan dan perkawanan.
Berbeda misalnya dengan perlakuan kepada mereka yang menunjukan permusuhan dan pertentangan. Perhatikan ayat berikut
"Dan Bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka Telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), Maka Bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir" (QS al Baqarah/2: 191).

Menurut pakar tafsir al Qasimy, ayat di atas masih berkaitan dengan ayat sebelumnya yang menyuruh membalas memerangi orang-orang yang memusuhi kaum muslimin . Kaum musyrikin Mekkah, lanjut al Qasimy, telah menebarkan fitnah yang sangat dahsyat kepada kaum muslimin. Perbuatan kejam kaum musyrik yang telah menteror, mengusir dan menjarah harta kaum muslimin serta pengingkaran mereka terhadap perjanjian hudaibiah tidak bisa dibiarkan saja. Untuk itu, al Qur'an memerintahkan kepada kaum muslimin untuk membalas kekejian perbuatan orang-orang kafir .
Ayat di atas dan yang serupa menurut pemikir kondang Yusuf al Qardhawi, bukanlah bermaksud menebarkan kerusakan atau angkara murka. Sebaliknya, lanjut al Qardhawi, hal demikian dimaksudkan sebagai reaksi atas perlakuan buruk pihak luar kepada umat muslimin . walaupun zahirnya adalah tindakan kekerasan, akan tetapi pada hakekatnya adalah sebagai rahmat, yakni pembelaan diri terhadap eksistensi agama, negara dan hak-hak asasi manusia . Untuk tujuan-tujuan seperti disebut di atas itulah, al Qur'an berbicara melalui retorika tahdîd. Demikian retorika ta'lîf dan tahdîd al Qur'an.


G. Retorika Tasysyabbuhât dan Tahakkumât.

Sebagai mahluk multidimensi, manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya telah sah mendapatkan mandat untuk menjadi pengelola alam ini. Untuk melakukan tugas tersebut, manusia di tuntut untuk memunculkan kreatifitas dan inovativitasnya guna mengembangkan alam ini. Hal tersebut tentunya hanya dapat dilakukan jika manusia menggunakan akalnya secara optimal . Melalui akalnya, manusia melakukan penyelidikan-penyelidikan di alam empris. Selanjutnya dari penyelidikan dan penelitan manusia terhadap alam menghasilkan dua keuntungan. Pertama, keuntungan pengetahuan. Sifat dasar manusia yang cenderung ingin tahu terhadap fenomena-fenoma di sekitarnya, mendorongnya untuk melakukan penyelidikan dan penelitian. Melalui penyelidikan dan penelitian terhadap alam, manusia mendapatkan pengetahuan-pengetahuan baru yang memuaskan hasratnya. Kedua, keuntungan pengembangan, yang kedua ini merupakan implikasi dari keuntungan yang pertama. Jika manusia telah mengetahui tentang rahasia-rahasia alam, maka yang berikutnya dilakukan adalah melakukan pengembangan terhadap alam. Kegiatan pengembangan manusia terhadap alam pada akhirnya menghasilkan banyak sekali penemuan baru yang memudahkan kehidupan mereka . Karena ini adalah sisi positif, dalam hal ini al Qur'an berbicara kepada manusia dengan retorika yang memotivasi nalar agar menghasilkan kreatifitas dan inovativitas di alam ini, inilah yang disebut retorika tasysyabbbuh dalam al Qur'an. Diistilahkan demikian, karena al Qur'an membicarakannya dalam ayat-ayat mutasyabihât.
Di sisi lain, terdapat alam lain di luar alam fenomenal ini yang jauh dari jangkauan nalar manusia, di sinilah letak kelemahan manusia. Keterbatasan dan kelemahan nalar manusia pada akhirnya mengharuskan ia untuk menangguhkan segala pengetahuannya, menahan hasratnya dan mengurungkan segala usahanya kearah yang dimaksud . Karena segala usaha tersebut tidak akan pernah membuahkan hasil, sebaliknya malah menyebabkan kesia-siaan dalam hidup. Sebaliknya, al Qur'an menghendaki agar hidup manusia yang singkat di alam dunia ini menjadi maksimal. Untuk maksud tersebut, dalam pengetahuan yang berada diluar jangkauan nalar manusia, al Qur'an berbicara dengan gaya bahasa yang kaku dan menutup akses aktivitas nalar manusia. Dalam al Qur'an, gaya bahasa tersebut terekam dalam retorika tahakkum. Disebut demikian, karena retorika yang terakhir ini ditemukan dalam ayat-ayat muhkamât al Qur'an.
Perhatikan contoh ayat berikut

"..Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, Kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, Kemudian menjadikannya bertindih-tindih, Maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, Maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan " (QS al Nur/24: 43-44).

Kemudian bandingkan dengan ayat berikut

"..Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit" (QS al Isra'/17: 85).

Bagi penafsir kondang M. Quraish Shihab dengan mengutip pendapat Hanafi Ahmad dalam buku Al Tafsir Al 'Ilmi lil Ayat Al Kauniah, rangkaian ayat pertama dan yang serupa berisi pesan al Qur'an kepada umat manusia untuk meneliti tentang fungsi angin dalam kaitannya dengan proses turunnya hujan . Melalui penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan, bahwa ayat-ayat demikian ini memiliki potensi untuk mendorong aktivitas nalar manusia untuk melakukan penyelidikan terhadap alam fenomenal. Pernyataan tersebut diperkuat melalui penjelasan di tengah ayat, yang menyebutkan bahwa dalam penampakan fenomenal alam terdapat pelajaran bagi mereka yang memiliki penglihatan (uli al absar). Menurut pakar tafsir al Râzi, yang dimaksud dengan orang yang memiliki penglihatan di sini adalah orang yang melakukan penelitian dan penyelidikan sebagai lawan orang yang ikut-ikutan (taqlid) .
Kalau rangkaian ayat sebelumnya mengandung isyarat al Qur'an yang memotivasi munculnya kreasi dan inovasi manusia, maka pada ayat kedua ini al Qur'an adalah sebaliknya. Menurut pakar tafsir al Zamakhsâri, ayat di atas menjelaskan tentang ketidaksanggupan manusia untuk mengetahui hakekat ruh (mâhiat al rûh) . Pengetahuan mengenai ruh, lanjut al Zamakhsari, bukanlah wilayah nalar diskursus manusia, melainkan berasal dari wahyu dan kalam Allah semata . Karena nalar manusia tidak memiliki peran dalam mengetahui ruh, berarti manusia tidak memiliki kemampuan untuk meneliti hakekat ruh dalam tataran empirik, dan karena tidak bisa diteliti, berarti manusia tidak diperbolehkan untuk berspekulatif. Dengan demikian, semua pengetahuan tentang bahasan yang satu ini hanya bisa diambil datanya melalui wahyu al Qur'an, lain tidak.


H. Retorika Analogi al Qur'an.

Sesunggguhnya al Qur'an berfungsi sebagai petunjuk bagi seluruh kelompok dan golongan manusia. Petunjuk tersebut diungkapkan dalam bentuk pesan-pesan yang berisi kebenaran. Sebagai kitab yang berisi informasi kebenaran, kebenaran al Qur'an mencakup kebenaran empirik dan kebenaran abstrak. Di sisi lain, merupakan golongan terbanyak dari manusia adalah golongan awam (manusia pada umumnya/ arab: 'amat al nas). Lebih lanjut, golongan awam tidaklah sama dengan golongan cendikiawan yang memiliki kemampuan intelektual untuk mencerna kebenaran-kebenaran abstrak. Sebaliknya, golongan awam, hanya bisa menangkap kebenaran-kebenaran yang bersifat empirik .
Sebagai kitab yang berfungsi menyampaikan informasi kebenaran kepada semua golongan, al Qur'an menempuh jalan analogi (darb al amtsal) untuk menyampaikan kebenaran-kebenaran yang bersifat abstrak. Dengan cara demikian, setiap audien al Qur'an dapat memahami seluruh pesan al Qur'an. perhatikan contoh ayat berikut

"…Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat Melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)..." (QS al Baqarah/2: 17-19).

Melalui ayat di atas, al Qur'an bermaksud menyampaikan kebenaran informasi mengenai kelakuan orang-orang munafik yang sangat aneh dan menakjubkan. Bagi pakar tafsir kondang Quraish Shihab, kebenaran tentang kelakuan aneh orang-orang munafik itu bersifat abstrak dan sangat sukar dipahami secara awam . Lebih dari itu, untuk memahami sikap mereka diperlukan pemikiran yang mendalam. Agar pesan al Qur'an tersebut dapat dengan mudah dipahami, maka kebenaran abstrak tersebut harus diungkapkan dalam bentuk kebenaran konkrit yang mudah ditangkap panca indra (mahsusât).
Orang-orang munafik, lanjut Shihab, pada mulanya meminta kepada Allah agar diturunkan petunjuk kepada mereka. Namun setelah petunjuk yang terang benderang (hidayah al Qur'an) ada di sekitarnya, mereka malah menyia-nyiakannya. Akibat dari tingkah laku yang aneh dan tidak wajar itu, maka Allah tutup petunjuk yang menerangi mereka itu sehingga mereka tidak dapat mendengar nasihat, mengucapkan kalimat hak ataupun melihat tanda kebesaran Allah .
Bagi orang awam, abstraksi tersebut terlalu sulit dipahami. Agar dapat dipahami, maka al Qur'an mengungkapkannya melalui retorika analogi. Melalui ayat tersebut, orang-orang kafir dan munafik dianalogikan seperti orang yang meminta diterangi dengan nyala api. Setelah api itu menyala, mereka malah menyia-nyiakan cahayanya. Akibatnya, cahaya dari nyala api itu dihilangkan dan merekapun dibiarkan kegelapan. Demikian retorika analogi al Qur'an, dan masih banyak lagi contoh lain yang tidak mungkin disebutkan di sini.


I. Penutup.

Al Qur'an merupakan inti sari dari ajaran Islam. Sebagai inti sari Islam, maka retorika-retorika yang terdapat dalam al Qur'an pada dasarnya adalah retorika Islam itu sendiri. Retorika al Qur'an sebetulnya bertujuan untuk menyampaikan pesan-pesan dan menampilkan wajah Islam yang seharusnya. Dalam kaitan ini, retorika al Qur'an adalah retorika yang bersih dari kepentingan-kepentingan subyektif dan semata-mata berpedoman kepada kebenaran. Retorika al Qur'an memiliki beberapa karakteristik seperti fleksibilitas, obyektifitas, dan idealis-aktualis.
Retorika al Qur'an adalah retorika fleksibel, maksudnya retorika al Qur'an selalu berubah seiring dengan berubahnya kondisi audien. Hal demikian dimaksudkan agar pesan-pesan al Qur'an yang universal itu dapat diterima secara aktual oleh setiap audiennya diberbagai tempat (place) dan masa (time).
Retorika al Qur'an juga merupakan retorika yang obyektif, maksudnya retorika al Qur'an benar-benar bertujuan untuk menyampaikan kebenaran secara obyektif dan bebas dari subyektifitas pribadi si retorer. Berbeda dengan retorika pada umumnya yang masih sering mengandung berbagai kepentingan-kepentingan untuk maksud dan tujuan tertentu bahkan menyimpang dari kebenaran. Hal demikian dikarenakan ia berasal dari Tuhan semesta alam yang maha kaya, yang tidak memiliki kepentingan terhadap manusia serta disampaikan oleh manusia yang jujur dan terpercaya (Muhammad). Sehingga seluruh pesannya benar-benar berpihak kepada kebenaran dan kemanusiaan.
Terakhir, retorika al Qur'an berkarakteristik idealis-aktualis, maksudnya retorika al Qur'an mendorong audiennya agar menuju kesempurnaan hakiki tanpa mengabaikan realitas dan kenyataan yang tampak disekitarnya. Misalnya, al Qur'an mengajak untuk beriman kepada Allah, namun di sisi lain ia tidak mengingkari keberadaan manusia. Kemudian ketika al Qur'an menyeru manusia untuk menuju kesempurnaan spiritual, ia tetap menyeru untuk tidak meremehkan material. Di sisi lain, jikalau al Qur'an menyeru manusia untuk melakukan ibadah syar'iyah, ia tetap menekankan perlunya nilai moral sebagai ruh dari ibadah tersebut. Kemudian seruan untuk mengagungkan akidah, disertai dengan seruan untuk menyebar toleransi dan kasih sayang. Walaupun al Qur'an mengajak kepada keseriusan dan konsistensi, ia tidak lupa menyuruh mereka untuk mengimbanginya dengan dengan istirahat dan berhibur (al tamatta'). Kemudian ketika al Qur'an menggebu-gebu menyeru kepada kemajuan dan masa depan, ia tetap berpesan tentang perlunya mengambil i'tibar dari pelajaran yang lalu-lalu. Juga ketika al Qur'an menyuruh untuk berperang melawan terorisme, ia tidak lupa mengingatkan audiennya agar jangan berlampau batas dalam melakukan perlawanan. Ketika al Qur'an menyeru da'i untuk mengajak manusia kejalan Allah, ia tidak lupa mentarbiah si da'i agar komitmen antara perkataan dan perbuatan. Begitulah indahnya retorika al Qur'an.
Para da'i sebagai pengemban pesan al Qur'an seyogyanya menekuni dan mempelajari metoda-metoda retorika al Qur'an dalam menyampaikan pesan dakwahnya. Dengan demikian, dakwah mereka tepat mengenai sasarannya dan terhindar dari kepentingan-kepentingan duniawi yang bukan tujuan dari dakwah itu sendiri.

Wallahu a'lam bi al sawwab.
Prio khotman, 1 jumadil Tsani 1430 H/26 May 2009.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar